|
|
|
|
WISATA ZIARAH
MAKAM MAKAM WALI DI LOMBOK
Selamat datang di LTO Tours, kami menawarkan informasi
lengkap tentang wisata ziarah makam wali yang ada di pulau Lombok dan
sekitarnya detail dibawah ini :
WISATA RELIGI MAKAM "LOANG BALOQ" DI PULAU LOMBOK
Pantai Ampenan di Pulau Lombok terlihat begitu tenang.
Deburan ombak bergulung berkejaran tak jauh dari bibir
pantai. Sementara pohon kelapa yang menaungi tanaman perdu
disekitarnya, terlihat melambai-lambai menyambut sore tiba.
Di seberang jalan, tidak jauh dari Pantai Ampenan, angin
semilir terasa mendekap pohon tinggi menjulang. Di bawah
pohon beringin itulah telah bersemayam jasad tokoh
masyarakat yang disegani. Makam tersebut sangat dikeramatkan.
Makam Loang Baloq, begitulah masyarakat setempat menyebutnya.
Loang Baloq bukanlah nama seseorang, tapi Loang Balok
merupakan bahasa Sasak yang berarti pohon beringin yang
berlubang. Pohon beringin itu sendiri diyakini sudah berumur
ratusan tahun, terlihat akar dan batang yang sangat tua.
Makam Loang Baloq sebenarnya komplek pemakaman. Di komplek
makam itu telah bersemayam puluhan jasad dan di lingkungan
makam ditumbuhi sejumlah pohon kamboja layaknya
pemakaman-pemakaman pada umumnya. Namun, dari makam -makam
yang ada, ada tiga makam yang dikeramatkan. Makam tersebut
satu diantaranya berada di dalam lubang besar yang terbentuk
dari akar-akar pohon beringin, satu lainnya di lubang sisi
lain, dan satu lainnya lagi disamping pohon beringin.
Makam yang berada di lubang persis di bagian bawah pohon
beringin adalah makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak,
sedangkan di lubang bagian samping makam Anak Yatim dan di
bagian luar masih disamping pohon beringin terdapat makam
Datuk Laut.
Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak sudah dikeramik putih,
berbentuk empat persegi panjang dengan lubang di tengah. Di
lubang tengah itulah para peziarah biasa menaburkan bunga.
Meski makam itu sudah dikelilingi batang dan akar pohon
beringin, tapi untuk masuk ke makam tersebut telah dibangun
pintu masuk tersendiri. Di samping pintu masuk, telah
disiapkan air untuk peziarah. Disamping pintu masuk juga
telah tersedia mushola. Sedangkan makam Anak Yatim berada di
luar, disamping makam Maulana Syech Abdurrazak. Makam yang
masih dilingkupi batang dan akar pohon beringin itu, berada
dibagian luar, hanya bersekat akar dan bagian batang pohon
beringing. Ukurannya pun relatif kecil.
Sementara makam Datuk Laut, tidak berada langsung di bawah
pohon beringin, tapi disamping makam Anak Yatim. Makam yang
sudah dikeramik hitam itu berada di dalam bangunan permanen
berukuran sekitar 3X4 meter. Data Dinas Pariwisata Seni dan
Budaya Kota Mataram, berdasarkan sejarah, pada tahun 1866,
seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak
yang berasal dari jazirah Arab datang ke Palembang.
Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan
mendarat di pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram. Ketika
berada di daerah itu Maulana Syech Gaus Abdurrazak
menyampaikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam.
Ajaran tersebut sangat dipercaya oleh masyarakat, tidak
hanya di Mataram tapi juga di Pulau Lombok. Makam-makan
tersebut hingga kini sering dikunjungi para peziarah dari
Pulau Lombok maupun dari daerah lain. Para peziarah yang
datang ke makam biasanya berdoa semoga arwah beliau diterima
disisi Allah Swt.
Selain itu, ada pula peziarah yang melangsungkan upacara
potong rambut anak yang masih balita (ngurisang). "Upacara
seperti ini sudah dari leluhur dan di sinilah nenek moyang
kami. Karena itu, setiap ngurisang, tempatnya di makam ini,"
kata seorang warga yang sedang menggelar upacara potong
rambut anaknya.
Usai berziarah, pengunjung makam Loang Baloq biasanya juga
menyempatkan diri menikmati keindahan Pantai Tanjung Karang,
Ampenan. Pantai dengan pohon kelapa yang berjajar di
tepiannya, menghampar di depan komplek makam.
WISATA MAKAM KERAMAT BATU LAYAR
Makam Keramat Batu Layar yang berada di kawasan pantai
Senggigi, letaknya sekitar 10 Km dari kota Mataram dan
selama ini merupakan pusat dari seluruh rangkaian kegiatan
Lebaran Topat.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika setiap Lebaran
Topat tiba masyarakat dari pelosok pedesaan sekalipun baik
dari kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur
datang berbondong-bondong tumpah ruah bersama keluarganya di
sepanjang wilayah pantai Sengggigi.
Masyarakat yang datang ziarah ke Makam Batu Layar selain
untuk tujuan rekreasi ada juga diantaranya yang khusus untuk
datang membayar nazar setelah sebelumnya mempunyai nadar
atau hajat. Misalnya, dalam satu keluarga ada yang menderita
sakit tertentu yang tidak kunjung sembuh meski sudah datang
berobat ke dokter.
Nah! begitu keluarga tersebut 'menanamkan' niatnya untuk
datang berziarah ke makam tersebut bila sembuh dari
penyakitnya, maka praktis keluarga tersebut mempunyai
kewajiban untuk membayar nadarnya dan itu kebanyakan
dilakukan pada saat upacara Lebaran Topat berlangsung.
Seperti dituturkan oleh H. Sobri penjaga Makam Batu Layar
kepada penulis, lokasi tersebut dulunya sebagai tempat
dimakamkannya penyebar agama Islam di Lombok dan NTB pada
zaman Kerajaan Selaparang atau sekitar abad ke 16. Tokoh
tersebut bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami yang
berasal dari Baghdad. Tetapi ada juga versi lain yang
mengatakan kalau saja beliau merupakan keturunan Nabi
Muhammad SAW.
Makam Batu Layar, tidak hanya ramai dikunjungi pada saat
Lebaran Topat saja, pada musim naik haji dan sepulang haji
juga ramai. Rupanya para keluarga mereka yang berangkat haji
kemungkinan ada yang bernazar dan dikabulkan oleh-Nya.
Sebagai salah satu obyek wisata religius di Lombok, Makam
Batu Layar tidak hanya dikunjungi masyarakat local untuk
tujuan bayar nazar, tetapi juga ramai dikunjungi para
wisatawan, "Kalau untuk bayar nazar tidak hanya dari Lombok
tapi juga dari Jawa sana," kata Sobri.
Berkunjung ke makam Batu Layar bisa dilakukan secara
langsung dar kota Mataram, letaknya berada di atas bukit
yang menghadap ke laut pantai Senggigig dan hanya dibatasi
oleh jalan raya Senggigi.
Prosesi berkunjung ke makam Batu Layar ada yang dilakukan
langsung mendatangi makam kemudian berdoa dan berzikir. Bagi
mereka yang punya niat-niat tertentu (besangi) misalnya,
agar dilimpah banyak rizki maka mereka terlebih dahulu
mampir di Lingkuk Mas cukup dengan berjalan kaki dari lokasi
Batu Layar. Tujuan ke Lingkuk Mas untuk mengambil air
menggunakan ceret serta dipandu oleh tokoh masyarakat dan
Marbot.
Nah, air tadi kemudian di bawa ke lokasi makam Batu Layar
untuk diupacarakan (bejanjam) dengan pembacaan doa dan zikir
yang dipimpin oleh penjaga makam Batu Layar.
Setelah bedoa selesai maka dilanjutkan dengan besembek atau
mengolesi kening dengan sirih yang telah dikunyah, kemudian
kejames yakni membasahi bagian kepala dengan air dan
beseraup yakni mengusapkan air ke wajah.
Selain Batu Layar, lokasi lainnya yang termasuk obyek wisata
religius yakni, Makam Loang Baloq. Makam Bintaro, Pura Meru,
Taman Mayura, Makam Selaparang di Lombok Timur serta
sejumlah lokasi lainnya.
WALI NYATOQ
Wali Nyatoq adalah waliyullah yang sangat melegenda di Pulau
Lombok, lebih-lebih dikalangan masyarakat Lombok Tengah atau
tepatnya di desa Rembitan, bagian Selatan Pulau Lombok.
Sebutan Wali Nyatoq dikaitkan dengan tanda-tanda kewaliannya.
Nyatoq artinya "nyata" karena masyarakat sangat mempercayai
bahwa Wali Nyatoq benar-benar sebagai seorang wali. Konon
wali nyatok memiliki 33 nama. Di setiap desa atau kampung
yang pernah disinggahi, ia disebut dengan nama yang
berbeda-beda. Salah satunya Sayyid Abdullah, gelar ini
diperoleh setelah beliau meninggal dunia. Tidak ada yang
tahu persis darimana ia berasal, sebagian masyarakat
mempercayainya bahwa ia berasal dari Negeri Timur Tengah
karena ciri-ciri wajah dan postur tubuh yang dimiliki persis
seperti dari Bangsa Arab. (Religi, 2002).
Di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, atau 49 km
dari kota Mataram, terdapat sebuah makam yang cukup istimewa.
Makam Wali Nyatoq, demikian namanya. Makam ini terletak
tidak jauh dari masjid tua Rembitan. Bagi masyarakat Lombok
Tengah, Wali Nyatok telah menjadi bagian penting dari
kehidupan mereka karena berjasa dalam penyebaran agama Islam
di sana, sehingga makamnya memiliki makna spiritual yang
luar biasa.
Warga masyarakat yang datang ke sana selain untuk nyekar,
juga minta keselamatan dan kesembuhan dari penyakit. "Jika
kita ada niatan dan ikhlas, pasti dikabulkan. Percaya atau
tidak, banyak yang telah menjadi kenyataan. Ini memang hal
yang secara rasional sulit dipercaya. Karena itu banyak
warga yang mempercayainya berduyun-duyun datang ke makam
khususnya pada hari Rabu menjelang bulan Maulid," (Yang
Biasa Aku Liat)
Mereka yang berkunjung tidak hanya dari Lombok, melainkan
juga datang dari Jawa.Informasi itu sendiri di samping
diperoleh dari mulut ke mulut, juga atas petunjuk spiritual.
Dalam kaitan kunjungan pada hari Rabu, memang menjadi buah
bibir masyarakat. Namun konon, hari Rabu adalah hari baik di
mana Wali Nyatoq memberikan berkahnya secara utuh. Beberapa
warga mengaku pernah ada wangsit dari Wali Nyatoq yang
menyebutkan bahwa dia ada pada hari itu. Akhirnya, kebiasaan
berkunjung pada hari Rabu terus terpelihara.
Air makam Wali Nyatok pun dikeramatkan, sehingga acapkali
dipakai sebagai sarana untuk mengungkap suatu kasus
meresahkan yang terjadi di desa itu. Misalnya saja jika ada
warga yang kecurian, kemudian ada seseorang yang dicurigai,
orang itu langsung digelandang ke makam Wali Nyatoq untuk
disumpah. Di sana, di hadapan warga, orang itu akan diminta
meminum air tanah tersebut. Mereka yang merasa mencuri,
tidak akan bersedia meminumnya karena akan terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan pada dirinya.
Bisa dibilang, makam Wali Nyatoq sangat diistimewakan
masyarakat setempat. Seperti Yang Biasa Aku Liat makam
tersebut identik dengan keberadaan masjid tua Rembitan --
yang usianya diduga mirip dengan masjid tua Bayan dan masjid
tua Pujut. Fondasi bangunan masjid dari tanah. Namun
gambaran yang khas dari masjid itu adalah tali-temalinya
menggunakan bahan ijuk dan tali saot -- sejenis akar gantung
pada tumbuhan hutan. Sedangkan tali pengikat atap
alang-alang disebut male.
Abad Ke-16
Masjid tua Rembitan dengan bentuk atap tumpang dan tanpa
serambi itu diperkirakan dibangun pada abad ke-16. Babad
Lombok menyebutkan bahwa agama Islam masuk ke Lombok dibawa
Sunan Prapen, putra Sunan Giri dari Gresik. Dibangunnya
Masjid Rembitan itu sering dihubungkan dengan tokoh penyebar
agama Islam di daerah Rembitan Wali Nyatoq.
Wali Nyatoq merupakan penyebar Islam yang masuk ke kawasan
selatan Lombok Tengah di mana masyarakat semula merupakan
pemeluk animisme. Dalam menyebarkan Islam, Wali Nyatok pun
mengimplementasikannya dalam kegiatan sehari-hari lewat
tingkah laku yang baik.
Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, pada saat Wali
Nyatoq meninggal dunia, jenazahnya ditandu. Konon begitu
akan dikuburkan, jasadnya menghilang. Yang tinggal hanya
kain kafan dan keranda yang kemudian dimakamkan. Begitu
kuatnya keterikatan masyarakat dengan tokohnya itu membuat
hubungan masyarakat dengan makam tersebut tidak bisa
dipisahkan. Karena itu, tidak ada seorang pun yang berani
menggugat keberadaan makam itu.
MAKAM TGH. ZAINUDDIN ABDUL
MAJID (MAULANA SYEH)
Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, Pendiri organisasi
Nahdatul Wathan. Lombok adalah sebuah pulau di Nusantara
yang berada di sebelah timur pulau Bali. Masuknya Islam ke
Lombok sekitar abad ke-14 tidak jauh berbeda dengan daerah
sekitarnya, seperti Makasar, Buton, Bone, Sumbawa, dan
pulau-pulau lainnya di sekitar Nusa Tenggara. Menurut Raden
Itarawan (1998), Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Sunan
Giri bersama dengan 44 pengikutnya ketika terdampar di desa
Bayan yang penduduknya masih menganut paham animisme.
Penyebaran Islam di Lombok ditandai oleh peninggalan Masjid
"Belek" di Bayan.
Dari sinilah, Islam di Lombok terus berkembang sebagai agama
yang dianut oleh masyarakat. Perkembangan Islam di Lombok
seiring dengan kemunculan para penyebar Islam (juru dakwah)
seperti apa yang penah diajarkan Sunan Giri untuk
membebaskan masyarakat dari paham
animisme menjadi masyarakat Muslim. Pada gilirannya,
lahirlah sosok-sosok ulama Lombok pada awal abad ke-20 yang
disebut Tuan Guru yang memiliki pengetahuan agama yang luas
untuk meneruskan tradisi dakwah dari para pendahulunya yang
telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga
serta membebaskan masyarakat dari kebodohan dan
keterbelakangan akibat kolonialisme Belanda.
Misi penyebaran Islam yang dulunya diwakili oleh para Wali
Jawa diambil alih oleh Tuan Guru yang dibarengi pula
pertumbuhan pondok pesantren yang menyedot banyak pengikut
dari segala penjuru dan dari luar pulau Lombok. Perjuangan
Tuan Guru diarahkan untuk mensucikan Islam dari unsur-unsur
kepercayaan lain dengan menganjurkan kembali pada al-Qur'an
dan Hadits sebagai sumber pedoman Islam yang utama (Erni
Budiawanti (2000).
Dalam konteks ini, muncullah seorang ulama terkenal di
Lombok, yakni Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
yang dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada
tanggal 17 Rabiul Awwal 1324 H/1906 M. Tuan Guru Haji
Muhammad Zainuddin AM dibesarkan di tengah-tengah keluarga
religius dan sangat dihormati masyarakat. Berdasarkan
penelitian doktoral yang dilakukan Erni Budiawanti (2000),
TGH Muhammad Zainuddin AM termasuk salah seorang ulama yang
memiliki banyak pengikut di Bayan bersama tuan guru lainnya;
yakni TGH Hazmi Azar dan TGH Safwan Hakim. Ayahnya, Tuan
Guru Abdul Majid, merupakan tokoh agama dan tokoh
maasyarakat yang sangat disegani, dihormati, dan kharismatik.
Ayahnya juga dikenal sebagai tokoh pemberani yang pernah
memimpin pertempuran melawan kaum penjajah Belanda, Jepang,
serta melawan kerajaan Hindu Bali (Karangasem) yang
menguasai daerah Lombok.
Sejak kecil, TGH Muhammad Zainuddin AM diakui sangat cerdas,
jujur, pandai dan memiliki otak brilian. Tak mengherankan,
jika Ayahnya menaruh perhatian yang khusus kepadanya yang
diharapkan dapat melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai
tokoh masyarakat dan tokoh agama di Lombok. Pada usia 6
tahun, ia sudah fasih membaca al-Qur'an di bawah bimbingan
ayahnya langsung. Pada masa inilah, ia memperdalam ilmu
pengetahuan agama secara langsung dari beberapa ulama di
sekitar Lombok, yakni TGH Syarafuddin di Pancor dan TGH
Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur. Di bawah
ketiga ulama Lombok inilah, TGH Muhammad Zainuddin AM
dibekali pengetahuan agama secara memadai untuk melanjutkan
tradisi intelektual yang telah berkembang di Lombok.
Setelah mendapat pengetahuan agama dari ulama-ulama Lombok,
TGH Muhammad Zainuddin AM dikirim ayahnya ke Mekah al-Mukarromah.
Tepatnya pada usia 17 tahun, ia belajar kepada ulama-ulama
Mekah tentang berbagai disiplim ilmu pengetahuan agama
selama 12 tahun. Di Masjidil Haram lah, ia mula-mula belajar
dengan mendapatkan guru-guru yang sudah ditentukan oleh
ayahnya sendiri. Pada tahun 1928, ia melanjutkan studinya di
Madrasah Ash-Shaulatiyah yang pada saat itu dipimpin oleh
Syaikh Salim Rahmatullah putra Syaikh Rahmatullah, pendiri
Madrasah Ash-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah madrasah
pertama di tanah suci yang banyak menghasilkan ulama-ulama
besar. Di madrasah inilah, ia belajar berbagai ilmu
pengetahuan agama dengan rajin di bawah bimbingan
ulama-ulama terkemuka di kota suci Mekah.
Setelah menimba ilmu di Mekah, TGH Muhammad Zainuddin AM
kembali kampung halamannya, Pancor, Lombok Timur untuk
mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya di Mekah sekaligus
untuk mewujudkan obsesinya melanjutkan kepemimpinan orang
tuanya sebagai tokoh agama yang akan menegakkan
ajaran-ajaran agama. Langkah pertama yang dilakukannya
adalah mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah
Islamiyah (NWDI) pada tahun 1934. Madrasah ini khusus
diperuntukkan bagi santri pria (Wildan, 1998). Pendirian
madrasah ini bermula dari mengumpulkan para pemuda/remaja
dalam bentuk halaqah atau majlis ta'lim. Inilah barangkali
cikal bakal pendidikan agama di Nusantara selama
berabad-abad.
Baru pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943, TGH
Muhammad Zainuddin AM mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat
Diniyah Islamiyah (NBDI) yang dikhususkan kepada santri
perempuan. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama
yang berdiri di Lombok. Pada gilirannya, kedua madrasah ini
diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren Darun Nahdlatain
Nahdlatul Wathan (Wildan, 1998).
Hal ini tentu saja memberikan keyakinan intelektual betapa
pesantren telah lama menjadi salah satu bentuk dari
pendidikan agama yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia
sejak abad ke-13 atau sebelum datangnya penjajah Barat dari
berbagai penjuru daerah, termasuk di Lombok. Pesantren
sebagai sebuah lembaga pendidikan swasta sudah sejak lama
mempunyai diversifikasi dalam berbagai cabang keilmuwan (Karel
A. Steenbrink, 1986) Pendidkan Jaringan Intelektual
TGH Muhammad Zainuddin AM memiliki jaringan intelektual yang
luar biasa, terutama silsilah guru-guru yang didapatinya
selama di Mekah al-Mukarromah. Jaringan ini mencerminkan
betapa luasnya pengembaraan mencari ilmu dan matangnya
keilmuwan TGH Muhammad Zainuddin AM. Silsilah keilmuwan yang
diperolehnya tidak dalam satu mata rantai dalam setiap
cabang keilmuwan, melainkan beberapa guru yang memiliki
kemampuan dan pengetahuan agama yang luas.
Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat.
Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober1997 M/20 Jumadil Akhir
1418 H, sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar
pukul 19.53 Wita di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok
Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama,
puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan
Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan
manca negara.
Untuk informasi paket wisata religi, silahkan hubungi kami
melalui e-mail atau telpon
-o0o-
|
|