|
|
|
|
WISATA SENTRA
KERAJINAN DI LOMBOK
Selamat datang di LTO Tours, kami menawarkan informasi
lengkap tentang wisata kerajinan yang ada di pulau Lombok dan
sekitarnya detail dibawah ini :
Pesona Lombok
bukan sekadar pantai. Di sana ada sentra-sentra kerajinan
yang menjadikan daya tarik wisata pulau itu jauh lebih
menakjubkan. Berkunjung ke Lombok tidaklah bermakna hanya
untuk menyaksikan keindahan alam pantai semata. Sebab, di
wilayah elok itu juga terdapat pesona lain yang memperkaya
unjungan wisata. Sejumlah sentra kerajinan rakyat dan pasar
seni menjadi daya tarik yang menarik untuk dikunjungi.
Sentra kerajinan rakyat antara lain pusat kerajinan mutiara
dan emas Desa Sekarbela, atau kerajinan Ketak di Rungkang,
Sayang-Sayang, yang keduanya berada dalam wilayah Kota
Mataram. Selain itu, wisatawan juga bisa berkunjung ke Desa
Banyumulek, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, atau
di Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, dan Desa Penujak,
Kabupaten Lombok Tengah, untuk menyaksikan kerajinan tangan
gerabah (tembikar).
TENUNAN IKAT
DAN SONGKET ( Desa Sukarare dan Desa Pringgasela ),
Selain kerajinan emas dan mutiara, terdapat sentra kerajinan
kain tenun ikat atau kain songket khas Lombok di Desa
Sukarara, Lombok Tengah. Di Sukarara, selain pengunjung bisa
menyaksikan berbagai jenis dan motif tenunan khas, ada pula
atraksi para gadis yang menyulam dan merajut benang satu per
satu dengan peralatan yang sangat tradisional sehingga
menjadi sebuah kain siap untuk dijual. Konon di desa
sukarare ini para gadis tidak boleh menikah sebelum bisa
menenun.
PHOTO GALLERY

Songket
merupakan kain tenun tradisional sasak yang terkenal di Nusa
Tenggara Barat bahkan sampai keluar daerah dan Mancanegara.
Souvenir ini bisa didapati di daerah objek wisata Lombok
Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat yang
merupakan desa tempat penenun membuat kain songket ini,
berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung tertarik
menyaksikan cara pembuatan kain songket yang dibuat oleh
wanita dengan berpakain tradisional khas sasak bias
berkunjung menyaksikannya secara langsung ke Desa Sukarare.
Tenun ikat khas
Lombok ini memang sebetulnya dapat juga ditemukan di Kota
Mataram seperti di bagian barat pusat pertokoan Mataram
Mall. Di sana banyak toko yang menjual kain songket hasil
kerajinan tangan masyarakat Lombok. Lombok memang bukan
sekadar pantai. Banyak daya tarik wisata lainnya yang
sungguh sayang bila dilewatkan.
-o0o-
GERABAH LOMBOK ( Desa Banyumulek, Desa Masbagik, dan Desa
Penujak ).
Produk berbahan
baku tanah liat ini merupakan salah satu hasil kerajinan
tangan rakyat kecil yang sangat spesifik di daerah Lombok.
Hasil kerajinan tangan yang satu ini sangat estetis,
sehingga tidak mengherankan kalau kalangan pengusaha di
Lombok ataupun dari luar daerah berebut memburu gerabah
Lombok untuk komoditas ekspor andalan ke sejumlah
negara.Produksi gerabah Lombok diminati karena tidak sekadar
dijadikan barang pajangan rumah tangga atau perkantoran saja,
tetapi juga banyak dijadikan sebagai penghias taman dan
perhotelan.Bahkan hampir seluruh hotel berbintang di daerah
tersebut menjadikan gerabah sebagai penghias ruangan, taman,
suvenir, wadah penyaji makanan, minuman, meja tamu, tempat
lilin, asbak, vas bunga, dan sebagainya yang semuanya
menghadirkan kesan indah. Gerabah Lombok terdiri dari
beraneka bentuk, ragam, rupa, dan ukuran. Begitu juga dengan
motifnya, selain sebagai nilai seni juga menghadirkan nuansa
khas tradisional Sasak.
PHOTO GALLERY
Selama ini gerabah Lombok yang diproduksi di antaranya
berupa gentong, gentong lada, asbak, piring, cobek, mangkuk,
lampu taman, cerakin, tempayan, tempat obat nyamuk dan lilin,
patung-patung kecil, penghias meja dan dinding, tempat buah,
kendi, bunga kuping empat, penculakan, kaling jeger, kimbing,
speaker, gentong air mancur, belanga, botol, pas bunga, dan
sederet jenis lainnya. Biasanya setiap motif yang dibuat
selalu disesuaikan dengan jenis dan ukurannya. Ada motif
bunga, hewan, topeng, subahnale (subhanallah), motif berugaq,
dan berbagai motif lainnya sehingga lain gerabah lain pula
kesan keindahan yang ditimbulkannya. Apalagi dengan
ditambahkan ilustrasiseni, seperti hiasan anyaman rotan,
koin, kerang, culi, sehingga tampak cantik.
-o0o-
MUTIARA LOMBOK.
Lombok merupakan
produsen mutiara berkategori south sea pearl (jenis terbaik)
yang berjasa menempatkan Indonesia dalam daftar negara
penghasil mutiara terbesar di dunia, bersama Australia, Cina,
dan Jepang. Dari semua pusat peternakan mutiara di Lombok,
Sekotong adalah yang paling masyhur.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat membuka
kawasan Sekotong sebagai destinasi wisata pelesir kedua
setelah Senggigi. Daerah ini masih tergolong asri. Hamparan
pasir putih dan hutan lebat membalut pulau tanpa banyak
terusik oleh kehadiran bangunan. Hanya segelintir resor dan
penginapan yang berdiri di sini; beberapa masih dalam tahap
konstruksi. Kalau pun ada pengunjung, paling hanya
orang-orang sekitar yang datang untuk menyalurkan hobi
memancing.
Satu alasan kenapa Sekotong minim turis adalah rute untuk
menjangkaunya cukup menguras keringat. Pengunjung harus
menyusuri jalan penuh tikungan dari Mataram selama tiga jam
lebih.
Salah satu modus budidaya mutiara di Sekotong adalah dengan
menyuntikkan inti nukleus mutiara ke dalam badan kerang.
Praktik ini bisa disaksikan misalnya di PT.Budaya Mutiara,
salah satu perusahaan mutiara terbesar di Sekotong yang
sudah beroperasi sejak 1989. Jika ingin membeli mutiara,
pengunjung disarankan pergi ke kawasan Sekarbela yang
berjarak sekitar empat kilometer dari Mataram.
Bagi wisatawan yang gemar terhadap aksesori, datang saja ke
sentra kerajinan emas dan mutiara di GALLERY MUTIARA (
LOMBOK PEARLS ), atau di Desa Karang genteng Kota Mataram,
tempat ini setiap hari selalu ramai dikunjungi wisatawan
domestik maupun mancanegara. Di sana terdapat puluhan toko
atau outlet penjualan emas dan mutiara termasuk di kompleks
pertokoan Mataram Craft Centre (MCC)
PHOTO GALLERY
Di sana berbagai jenis dan warna mutiara tinggal dipilih.
Ada mutiara jenis air tawar dan mutiara hasil budi daya laut.
Kualitas mutiara Lombok terkenal sangat bagus, hanya sedikit
berada di bawah mutiara Australia. Apalagi setelah diikat
dengan untaian emas. Mutiara air tawar tentu saja harganya
jauh lebih murah jika dibandingkan dengan mutiara hasil budi
daya. Harga sebutir mutiara air tawar ada yang hanya Rp
5.000 hingga Rp15.000, dengan berat lebih kurang 700 gram
hingga 800 gram. Berbeda jauh harganya dengan mutiara air
laut, yang bisa mencapai Rp700 ribu per gram. Di Lombok, ada
dua jenis mutiara yang banyak dipasarkan, yakni round pearl
atau mutiara bundar dan half pearl atau setengah bundar.
Yang terbanyak dipasarkan adalah mutiara bundar.
-o0o-
KERAJINAN CUKLI RUNGKANG JANGKUK
Berjalan seiring dengan berkembang majunya pariwisata di
Lombok, sejak 1986, muncul pusat pengrajin di Lingkungan
Rungkang Jangkuk yang berada di Kelurahan Sayang-Sayang Kota
Mataram. Letaknya, di pinggiran utara-timur kota, sekitar
empat kilometer dari pusat kota. Semula, warga di sana dalam
kehidupan sehari-harinya adalah penghasil periuk tradisional
untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, tidak banyak bisa
memperoleh nafkah. Kemudian, adanya permintaan barang antik
untuk menyuplai kebutuhan barang antik oleh art shop di
Bali, menarik warga Rungkang ikut berburu keliling pelosok
desa di pulau Lombok.
Alkisah, waktu itu banyak benda-benda peninggalan zaman
dahulu yang bisa diperoleh warga Rungkang Jangkuk yang
berdagang barang antik tersebut. Ada keris, guci, keramik,
berugak (tempat duduk-duduk khas Sasak di luar rumah), pintu,
jendela ataupun benda lainnya diantaranya adalah kontak
antik untuk menyimpan barang di kalangan orang Sasak.
‘’Setelah sulit mendapatkan barang-barang antik, ada muncul
gagasan baru. ‘’Membuat sendiri kotak antik yang memang
disukai pengumpul barang antik,’’ ujar Haji Tahpi, 48 tahun,
salah seorang warga di sana yang juga pernah berdagang
barang antik ke Bali.
Sejak itulah, Rungkang Jangkuk dikenal sebagai pusat
kerajinan di kota Mataram. Tidak hanya kunjungan pejabat
atau tamu daerah yang berkunjung diajak singgah ke sana,
tetapi para wisatawan mancanegara (wisman) pun mendatanginya.
Di sepanjang jalan lingkungan Rungkang Jangkuk berdiri art
shop milik penduduk di sana. Ada Jambu Crafts, Rara
Handycraft Shop dan Koperasi Pade Angen yang beranggotakan
115 orang pengrajin setempat.
Semula, Rungkang Jangkuk dikenal sebagai pusat produksi
kerajinan kotak antik yang dibuat warga. Menggunakan bahan
pelepah aren atau pandan yang dihiasai oleh . Namun, tidak
bertahan lama. ‘’Bahannya sulit diperoleh,’’ ujar salah
seorang warga pengrajin kotak antik Muhajab, 28 tahun. Sejak
tiga tahun terakhir ini, ia beralih menjadi pekerja yang
menghasilkan produksi Cukli.
PHOTO GALLERY
|
 |
 |
 |
|
KERAJINAN KAYU DESA JANGKUK / RUNGKANG SAYANG |
 |
 |
 |
Cukli Rungkang Jangkuk
Apa kerajinan cukli itu? Cukli adalah nama dari kerang yang
didatangkan dari luar daerah seperti Sulawesi, Flores atau
bahkan dari Jawa. Kulitnya yang keras itu berwarna putih
gading. Nah, kulit kerang itulah yang dipotong kecil-kecil
berbentuk wajik dijadikan penghias kerajinan di sana dalam
berbagai rupa disain. Ada meja dan kursi, lemarin, dinding
sketsel pemisah ruang, kotak barang, kotak perhiasan, asbak,
tempat buah, rehan – tempat kitab Al Qur’an untuk mengaji,
topeng atau patung primitive dan binatang yang digemari oleh
wisman. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Nusa Tenggara
Barat Fatwir Uzali mengatakan : ‘’Kerajinan cukli memberikan
wahana baru obyek kerajinan Sasak.’’ Kerajinan di situ
menggunakan bahan baku kayu mahoni yang berkwalitas sehingga
tidak mudah rusak. Apalagi warnanya yang hitam kecoklan
menjadi identik dengan kesenian Aborigin.
Menurutnya, kerajinan cukli ini menjadi luar biasa daya
tariknya bagai wisatawan yang datang ke Lombok. Sebab,
adanya kerajinan cukli ini memberikan citra tradisional dari
kata lain desain Lombok Primitive yang membuat tamu-tamu
wisatanya berdecak kagum. ‘’Para pemandu wisata akhirnya
menyebut ukiran cukli itu Lombok Primitive,’’ ucapnya.
Maka tidak heran kalau wisatawan yang berkunjung sangat
tertarik ingin tahu lebih banyak produksi kerajinan cukli
tersebut. ‘’Banyak orang tertarik cukli. Orang Eropah
ataupun Timur Tengah menyukainya,’’ kata Fatwir yang
menyebut pemandu wisata tidak sekedar mengajak tamunya
mendatangi art shop namun juga datang ke sentra mereka
bekerja di lingkungan rumah pemilik usaha.
Kalau kita masuk ke Rara Handycraft milik Haji Ahmad Faozi.
di sana ada Sri Muawanah, adik kandung dari pemiliknya yang
menunggu pengunjung. Terlihat di dalam ruang yang berkuran
sekitar enam meter lebar 10 meter, ada sofa lengkap yang
harganya Rp7 juta, peti kotak kayu ukuran kecil 45 senti –
30 senti harganya Rp900 ribu dan yang lebih besar 75 senti-
30 senti seharga Rp1,25 juta. Sebuah baki tergantung
ukurannya dijual Rp50 ribu – 75 ribu, satu set tiga unit
tempat buah Rp250 ribu, dinding sketsel pemisah ruang tamu
Rp4,5 juta atau rehan untuk menempatkan kitab Al Qur’an
seharga Rp60 ribu. ‘’Barang-barang ini yang disukai
pengunjung,’’ ujar Sri Muawanah.
Hampir sama isi jualan art shop di sana, Jambu Crafts
diantaranya menyediakan lemari kristal untuk memajang
koleksi perhiasan atau benda kerajinan yang tingginya 210
senti berdinding kaca dijual Rp3,5 juta. Atau ada pula
mangkok untuk permen dan buah yang harganya mulai dari Rp50
ribu sampai Rp150 ribu. Menurut Suci yang menjaga Jambu
Crafts, yang laku diminati adalah mebel yang diberi hiasan
pernik-pernik cukli itu. ‘’Yang banyak dibeli ya kursi dan
kotak perhiasan,’’ ucapnya. Di sana, satu set kursi
dijualnya Rp7,5 juta.
Mengenai penjualan setempat, Ketua Koperasi Pade Angen Haji
Sagir mengatakan art shop yang dipimpinnya yang mampu
menampung hasil kerajinan 115 orang anggotanya, dalam
setahun terakhir ini, bisa mendapatkan keuntungan Rp8 juta.
‘’Walaupun situasi kunjungan wisman belum pulih seperti
sebelum bom Bali,’’ katanya.
Tentu bukan hanya menunggu pengunjung wisatawan, untuk bisa
menjual dagangannya tersebut. Ada pula pemesan produksi
mereka dari mancanegara, seperti Ameriksa Serikat, Belanda,
dan Jepang. Pemilik Rara Handycraft Haji Ahmad Faozi
menjelaskan melayani orang-orang lokal Mataram hingga
Jakarta untuk keperluan mebel (furniture) rumah tangga.
Sagir pula yang menyebut kerjainan di kampungnya itu
memberikan peluang kerja pemuda sehingga mengurangi
terjadinya pengangguran. Di sana, menurutnya, pengangguran
dibilang tidak ada. ‘’Malah datang dari luar desa bekerja di
sini. Apalagi kalau musim ramai pesanan, kekurangan tenaga,’’
ucapnya. Sebab diantara 50an pengusaha art shop di
kampungnya, setidak-tidaknya ada tempat bekerja tiga orang
pengusaha besar di sana.
Termasuk Haji Ahmad Faozan yang melibatkan 10 orang
pengrajin yang menyelesaikan penggarapan produksinya mulai
dari menatah motif, memasang cukli, menggosok amplas,
menembel dempul, mengecat atau plitur. Setiap bulan ia
menghasilkan tiga set kursi untuk persediaan dijual. Untuk
satu set kursi, pengerjaannya memerlukan waktu sampai tiga
bulan. Karena itu, kesibukan di rumahnya selalu ramai dengan
pengrajinnya. ‘’Bulan ini bekerja penuh kecuali hari Minggu
libur,’’ ujar Sahrun yang ditemui sewaktu mengerjakan motif
hiasan meja berbentuk peti.
Misalnya Hasim, 22 tahun, yang hanya berpendidikan SMP sudah
lima tahun terakhir ini menjadi penatah ukiran. Siang itu,
sesuai motif batik yang dipegangnya ia mengerjakan daun
pintu kotak. ‘’Ongkosnya borongan,’’ ucapnya. Untuk satu
pekerjaan menatah motif, memasang cukli atau dibayar Rp150
ribu yang bisa diselesaikan dalam waktu enam hari. Tetapi
ada juga ongkos harian yang diberikan kepada pengrajinnya
seperti Mardawa, 23 tahun yang hanya berpendidikan SD,
diupah Rp30 ribu untuk pekerjaannya melakukan finishing
kotak perhiasan.
Seorang pengusaha artshop Sudirman di Senggigi Lombok yang
menjadi perintis usaha barang antik di Lombok mengatakan
bahwa produksi Rungkang Jangkuk sewaktu musim ramai
wisatawan yang datang ke Lombok banyak dikirim ke luar
negeri. Setiap dua minggu tidak kurang dari satu truck yang
diberangkatkan ke Bali. ‘’Sekarang memang lagi sepi
wisatawan,’’ ujarnya mengenai kurangnya penjualan barang
kerajinan di sentra kerajinan Rungkang Jangkuk.
Sudirman, yang juga menjadi pengusaha pembina pengrajin di
sana, menyebutkan kotak antik dibuat dari pelepah enau itu
dihiasi oleh kerang. Sedangkan peti yang terbuat dari kayu
dihiasi cukli. Penggunaannya sama, untuk tempat menyimpan
barang pada zaman dahulu. ‘’Yang diminati motif tradisional.
Awalnya memang dari kotak antik peninggalan zaman dahulu,’’
katanya.
-o0o-
ANYAMAN KETAK / ROTAN DESA BELEK
Pulau Lombok yang terletak di Nusa Tenggara Barat terkenal
sebagai salah satu destinasi wisata Indonesia yang dikenal
luas baik oleh turis lokal maupun mancanegara. Sebagai
daerah tujuan wisata, tentunya di Lombok tumbuh seni-seni
kerajinan tangan yang sangat digemari oleh turis untuk
dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Namun ternyata, sebelum
Pulau Lombok menjadi terkenal pun, seni kerajinan tangan
sudah sejak lama dibudidayakan dan menjadi tradisi orang
Sasak (masyarakat adat di Lombok). Banyak desa-desa yang
bertumbuh menjadi pusat-pusat kerajinan tangan.
Desa Beleka adalah salah satunya. Desa yang terletak 15 km
di arah Timur kota Praya, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten
Lombok Tengah ini merupakan salah satu pusat kerajinan
tangan, terutama kerajinan rotan dan ketak. Selain rotan,
kerajinan lain yang diproduksi adalah kerajinan kayu, keris
dan keramik. Sudah lebih dari 25 tahun desa ini menjadi
supplier kerajinan rotan untuk dijual kembali di Bali.
Pemandangan para wanita yang bekerja memilin rotan merupakan
pemandangan umum yang terlihat sehari-hari di Desa Beleka.
Tidak peduli dengan panasnya udara dan teriknya matahari,
ibu-ibu duduk beralaskan tikar di depan rumah, memangku
rotan di pangkuan sementara tangannya lincah bergerak
mengolah rotan menjadi barang kerajinan sambil asyik
berbincang dengan ibu-ibu lainnya. Sementara bapak-bapak
bertani, ibu-ibu ini membuat kerajinan setelah pekerjaan
rumah tangga selesai dikerjakan.
Proses pembuatan kerajinan terbilang cukup sulit dan memakan
waktu lama. Batang ketak dan rotan dihaluskan, lalu dianyam
atau dipilin sesuai model yang akan dibuat, terakhir dicat
dengan pelitur. Dalam sehari dapat diselesaikan 2-3 buah
kerajinan rotan yang sederhana. Oleh ibu-ibu pengrajin ini,
kerajinan rotan yang cukup simple dihargai Rp 5.000,00
sampai Rp 6.000,00 per buah. Sedangkan modal untuk membeli
bahan baku rotan dan ketak sekitar Rp.3.000,00 untuk setiap
buah kerajinan. Untuk modalnya, ibu-ibu ini juga mendapat
pinjaman PPK. Kerajinan ini lalu dibeli oleh pengepul untuk
dijual lagi ke artshop di NTB, pasar Sukowati di Denpasar,
bahkan ke luar negeri.
PHOTO GALLERY
 |
 |
 |
|
ANYAMAN KETAK DI DESA BELEKE
|
Peminatnya banyak, baik orang Indonesia maupun orang asing.
Seiring waktu, permintaan atas hasil kerajinan rotan dan
ketak semakin meningkat, bahkan kerajinan ini diekspor ke
Malaysia, Singapura, Cina, New Zaeland, Jepang, Amerika
Serikat, Australia, Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol,
Belgia dan Swiss. Tingginya permintaan akan hasil kerajinan
ini membuat perajin dan pemilik artshop mendatangkan bahan
baku dari luar pulau Lombok seperti Flores, Kalimantan
Selatan dan Sumbawa.
Namun ironisnya, harga jual kerajinan di luar desa Beleka
dapat mencapai puluhan ribu rupiah, berkali-kali lipatnya.
Dari salah satu penjual handycraft diketahui bahwa untuk
baki parsel anyaman rotan harganya Rp.35.000,00, untuk copok
bundar songket dihargai Rp.20.000,00, nampan dari rotan
dihargai Rp.80.000,00, bak sampah Rp.150.000,00, tas anyaman
Rp.250.000,00, bahkan keranjang laundry mencapai
Rp.300.000,00. Harga yang membengkak ini tidak dinikmati
oleh pengrajin karena harga jual dari pengrajin murah.
Pengepul dan pemilik artshoplah yang menikmati keuntungannya.
Ini terjadi karena kurangnya pengetahuan ibu-ibu pengrajin
tentang cara pemasaran dan nilai ekonomi dari pilinan demi
pilinan rotan yang dikerjakan dengan peluh dan keringat.
Sebenarnya usaha kerajinan rotan dan ketak ini berdampak
besar bagi kehidupan wanita desa. Selain meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraannya, juga membangun rasa percaya
diri dan optimisme wanita karena mereka telah memiliki
keterampilan yang bisa menjadi sumber penghasilan di samping
dari hasil bertani. Namun kurang matangnya strategi
pemasaran dan pengetahuan akan nilai jual kerajinan membuat
berkurangnya manfaat yang didapat. Agar dapat maksimal,
perlu dibuat kelompok wanita yang kompak bekerja sama mulai
dari persiapan, perencanaan, produksi kerajinan, pemasaran
sampai monitoring dan evaluasi. Dengan bekerja secara
berkelompok, akan tumbuh rasa kebersamaan dan kekeluargaaan
sehingga setiap wanita dapat berkontribusi baik dengan
mengajarkan pada yang belum terampil, maupun mencari
cara-cara memasarkan produk. Mungkin perlu adanya intervensi
pemerintah, untuk mengevaluasi dan menetapkan harga jual
sehingga pengrajin tidak hanya sekedar menjadi buruh
produksi.
-o0o-
KERAJINAN ANYAMAN BAMBU ( Desa Loyok ).
Pembuatan
anyaman bambu terletak di desa Loyok. Desa Loyok terletak di
kecamatan Sikur, sekitar 14 km dari kota Selong dan dapat
dijangkau dengan sarana transportasi umum. Sebagian besar
warga desa loyok berprofesi sebagai perajin anyaman bambu,
dan dari tangan-tangan trampil mereka dihasilkan berbagai
macam produk anyaman bambu seperti tas, hiasan dinding,
tatakan gelas, piring, asbak, hiasan lampu dan lain
sebagainya. Selain dapat digunakan untuk keperluan
sehari-hari, produk anyaman bambu desa Loyok juga dapat
dijadikan sebagai cinderamata.
Karena nilai seni dan keunikannya kita dapat menjumpai
produk anyaman bambu desa Loyok menghiasi kamar-kamar hotel
berbintang dan kantor-kantor juga telah berhasil menembus
pasar ekspor. Kerajinan bambu bukan sesuatu yang baru lahir
melainkan kekayaan budaya yang telah berusia hampir sama
dengan keberadaan manusia. Dampak dari kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Penemuan plastik telah menggeser
kedudukan bambu di masyarakat. Walaupun demikian kita harus
menyadari bahwa pada kenyataannya manusia sebagai bagian
dari alam tidak dapat melepaskan diri dari alam sehingga
upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan
menggalakkan kerajinan bambu perlu terus dilestarikan.
Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam mengayam bambu
antara lain :
Memilih Bambu untuk Bahan Anyaman
Bambu yang dijadikan sebagai anyaman bukanlah sembarangan
bambu. Bambu yang dipilih memiliki serat yang halus yang
biasa disebut bambu tali. Meskipun demikian, jika bambu ini
terlalu tua tidak dapat digunakan sebagai bahan anyaman.
Oleh sebab itu dipilih yang agak muda tetapi jangan yang
terlalu muda juga. Keadaan bambu yang menunjukkan bahwa
bambu sudah saatnya ditebang untuk dijadikan sebagai bahan
anyaman, jika masih nampak beberapa kelopak yang menempel
pada batangnya.
Mengolah
Bambu Menjadi Bahan Anyaman
Bambu ditebang dan dibersihkan ranting-rantingnya,
potong-potonglah bambu sesuai dengan ukuran yang diinginkan
(bahan yang akan dibuat) sembilunya dikerik sehingga
kulitnya yang berwarna hijau bersih. Gunakanlah golok atau
pisau raut untuk itu. Cara membelahnya, mula-mula dibagi
menjadi dua bagian yang sama besar lalu bagian tadi dibagi
dua lagi kemudian dibagi dua lagi. Setiap bagian berukuran
seperempat. Begitu seterusnya sampai diperoleh bagian
seperenambelas bagian. Setelah itu dijemur selama lima atau
tujuh hari baru kemudian dilanjutkan.
PHOTO GALLERY
Salah satu
sentra IK. Kerajinan Anyaman Bambu di Kabupaten Lombok Timur
adalah di Desa Loyok Kecamatan Sikur. Berdasarkan letak
geografisnya desa ini sangat strategis karena merupakan
jalur pariwisata yaitu, Tetebatu dan Otak Kokok sehingga
cukup potensi untuk didatangi oleh wisatawan lokal dan manca
negara.
Gambaran potensi Industri Kecil Kerajinan Anyaman Bambu di
Kabupaten Lombok Timur:
1. Lokasi sentra :
1. Loyok : 515 Unit usaha
2. Kotaraja : 86 Unit usaha
3. Greneng : 62 Unit usaha
4. Montong Betok : 80 Unit usaha
5. Rarang : 121 Unit usaha
2. Jumlah Tenaga Kerja : 2.783 Orang
3. Kapasitas Produksi : 467.345 buah
4. Jenis Produksi : Tast, Bakul, dll
5. Pemasaran : Lokal - Antar Pulau
-o0o-
|
|