|
SEJARAH GUNUNG
RINJANI
Sejarah
Gunung Rinjani
Pada satu masa di dekat negri Alengka (tempat para raksasa)……!!!!
tersebutlah sebuah pertapaan yang disebut dengan Gunung Sukendra.
Pertapaan itu dihuni oleh Resi Gotama dan keluarganya. Resi
Gotama adalah keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari
Mahespati. Resi Gotama memiliki seorang kakak bernama Prabu
Kartawirya yang kelak akan menurunkan Prabu Arjunasasrabahu.
Atas jasa-jasa dan baktinya kepada para dewa, Resi Gotama
dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi.
Dari hasil perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi
Anjani, Guwarsa (Subali) dan GuwaResi (Sugriwa).Tahun berganti
tahun, Dewi Windradi yang selalu dalam kesepian karena
bersuamikan seorang brahmana tua, akhirnya tergoda oleh panah
asmara Bhatara Surya (dewa Matahari). Terjadi saat sang dewi
sering berjemur telanjang mandi sinar matahari di pagi hari.
Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia sedemikian rapih
sehingga sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama,
maupun oleh ketiga putranya yang sudah menginjak dewasa. Akibat
suatu kesalahan kecil yang dilakukan oleh Dewi Anjani, jalinan
kasih yang sudah berlangsung cukup lama itu, akhirnya terbongkar
dan membawa akibat yang sangat buruk bagi keluarga Resi Gotama.
Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Anjani, Dewi
Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya, memberikan pusaka
kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani. Padahal ketika
memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara
Surya telah berwanti-wanti untuk jangan sekah-kali benda
kedewatan itu ditunjukkan apalagi diberikan orang lain, walau
itu putranya sendiri. Kalau pesan itu sampai terlanggar, sesuatu
kejadian yang tak diharapkan akan terjadi. Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut
ketentuan dewata tidak boleh dillhat atau dimiliki oleh manusia
lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik Astagina
disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga
didalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam
kesuragaan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, melalui
mangkoknya kita akan dapat melihat dengan nyata dan jelas
gambaran surga yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan.
Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh
kehidupan semua makluk yang ada di jagad raya. Sedangkan khasiat
kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi
semua apa yang diminta dan menjadi keinginan pemiliknya.
Bagi masyarakat hindu, cupu ini merupakan suatu wadah berbentuk
bundar berukuran kecil terbuat dari kayu atau logam. Manik=permata,
melambangkan sesuatu yang indah.
Asthagina=delapan
macarn sifat yang harus dimiliki oleh seorang brahmana:
• Daya sarwa buthesu (belas kasih kepada sekalian makluk),
• Ksatim (suka memaafkan, sabar),
• Anasunyah ( tidak kecewa atau menyesal),
• Saucam (suci lahir batin),
• Anayasah (tidak mengeluarkan tenaga berlebih-lebihan. Jawa;
nyengka, ngaya),
• Manggalam (beritikad baik),
• Akarpanyah (tidak merasa miskin baik dalam hal batiniah maupun
lahiriah, begitu pula dalam hal budi),
• Asprebah (tidak berkeinginan atau bahwa nafsu duniawi)].
Namun dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah
melupakan pesan Bhatara Surya. Dewi Windradi memberikan
Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan agar tidak
menunjukkan benda tersebut baik kepada ayahnya maupun kepada
kedua adiknya.
Suatu kesalahan dilakukan oleh Anjani. Suatu hari ketika ia akan
mencoba kesaktian Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan
Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan diantara mereka, saling
berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya,
sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan
secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama
telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan Anjani. Suatu
tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi.
Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan
prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu.
Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya untuk
memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan
hormat kepada ayahnya, Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik
Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwaa benda
itu pemberian dari ibunya.
Sementara Dewi Windradi bersikap diam membisu tidak berani
berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan
tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan pada buah simalakama.
Berterus terang, akan memebongkar hubungan gelapnya dengan
Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak
menghormati suaminya.
Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, dan
mengutuknya menjadi patung batu, yang dengan kesaktiannya,
dilemparkannya melayang, dan jatuh di taman Argasoka kerajaan
Alengka disertai kutukan, kelak akan memjelma kembali menjadi
manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa. Demi keadilan,
Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun
yang menemukan benda tersebut, dialah pemiliknya. Karena
dorongan nafsu, Dewi Anjani, GuwaResi Guwarsa dan Jembawan
segera mengejar benda kadewatan tersebut. Tetapi Cupumanik
Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja telah
melintas dibalik bukit. Cupu tersebut terbelah menjadi dua
bagian, jatuh ke tanah dan berubah wujud menjadi telaga. Bagian
Cupu jatuh di negara Ayodya menjadi Telaga Nirmala, sedangkan
tutupnya jatuh di tengah hutan menjadi telaga Sumala.
Mitos yg hidup di kalangan masyarakat Dieng menyebutkan bahwa
Telaga Merdada, yang letaknya 3,5 kilometer dari Desa Dieng,
dianggap sebagai penjelmaan dari Cupu Manik Astagina. Di dekat
Telaga Pengilon atau Telaga Cermin (konon cerita, bisa dipakai
untuk kaca cermin) terdapat Goa Semar. Masyarakat setempat
mempercayainya sebagai bekas tempat semedi Bodronoyo atau Semar.
Goa batu ini mempunyai panjang sekitar lima meter dan
dikeramatkan oleh masyarakat Dieng.
Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh
kedalam telaga, langsung saja mendekati telaga dan meloncat
masuk kedalamnya. Suatu malapetaka terjadi, Guwarsa, Guwarsi dan
Jembawan masing-masing berubah wujud menjadi seekor manusia kera.
Melihat ada seekor kera dihadapannya, Guwarsa menyerang kera itu
karena menganggap kera itu menghalang-halangi perjalanannya.
Pertarungan tak pelak terjadi diantara mereka. Pertempuran seru
dua saudara yang sudah menjadi kera itu berlangsung seimbang.
Keduanya saling cakar, saling pukul untuk mengalahkan satu
dengan lainnya. Sementara Jembawan yang memandang dari kejauhan
tampak heran melihat dua kera yang bertengkar namun segala
tingkah laku dan pengucapannya sama persis seperti junjungannya
Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati Jembawan mendekat dan
menyapa mereka. Merasa namanya dipanggil mereka berhenti
bertengkar. Barulah mereka sadar bahwa ketiganya telah berubah
wujud menjadi seekor kera. Dan merekapun saling berpelukan!
menangisi kejadian yang menimpa diri mereka.
Adapun Dewi Anjani yang berlari-lari datang menyusul, karena
merasa kepanasan, sesampainya di tepi telaga lalu merendamkan
kakinya serta membasuh mukanya, dan… wajah, tangan dan kakinya
berubah ujud menjadi wajah, tangan dan kaki kera. Setelah
masing-masing mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa
mereka, dengan sedih dan ratap tangis penyesalan, mereka kembali
ke pertapaan.
Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan
ketiga putranya yang telah berubah wujud menjadi kera. Setelah
memberi nasehat seperlunya, Resi Gotama menyuruh ketiga putranya
untuk pergi bertapa sebagai cara penebusan dosa dan memperoleh
anugerah Dewata.
Subali ‘tapangalong’ bergantungan di atas pepohonan seperti
kalong (kelelawar besar) layaknya. Sugriwa ‘tapa ngidang’
mengembara dalam hutan seperti kijang, sedang Anjani ‘tapa
ngodhok’ berendam di air seperti katak ulahnya di tepi telaga
Madirda. la tidak makan kalau tidak ada dedaunan atau apapun
yang dapat dimakan yang melayang jatuh di pangkuannya, dan untuk
melepas rasa haus ia membasahi mulutnya dengan air embun.
Beberapa tahun berialu, syahdan Batara Guru pada suatu waktu
melanglang buana dengan naik lembu Andininya. Ketika melewati
telaga Madirda dilihatnya Anjani bertapa berbadan kurus kering,
timbul rasa belas kasihannya, maka dipetiknya dedaunan sinom (daun
muda pohon asam), dilemparkan ke arah telaga dan jatuh di
pangkuan Anjani. Anjanipun memakannya, dan … iapun menjadi hamil
karenanya.
Setelah tiba saatnya, bayi yang dikandungnya lahir dalam ujud
kera berwarna putih sekujur badannya. Bayi itu kemudian diberi
nama Hanoman, mengacu kepada daun sinom pemberian Batara Guru
yang menyebabkan kehamilan Anjani. Dengan demikian dituturkan
bahwa Hanoman adalah putra Batara Guru dan Dewi Anjani.
Note
:
Hingga saat ini belum ada teman-teman di Lombok dapat
menceritakan mengapa Gunung
Rinjani ada di Lombok….. hanya mereka bercerita kadang para
pendaki saat mencapai caldera dalam keadaan capai suka
mendapatkan penampakan dari Dewi Rinjani yang cantik dengan
sebagian tangannya dan mukanya berbulu mirip kera…. katanya…
Jika ada yg tahu kisahnya tolong dilengkapi untuk melengkapi
cerita dari gunung yang tercantik ini…
Konon dalam kisah kerajaan Majapahit, Damar Wulan dapat
mengalahkan Menak Jinggo setelah dia bertapa di Gunung Rinjani.
Menak Jinggo menuntut ilmunya di Gunung Slamet. Semakin tinggi
tempatnya, maka semakin besar kekuatan super natural yang akan
diperoleh….. ala hualam…. hanya Tuhan yg tahu…. Tapi kalau lihat
sejarah agama, kitab-kitab itu memang diturunkan di alam bebas
seperti puncak gunung dan didalam gua.
-o0o-
|