|
INFORMASI DAN SEJARAH PULAU LOMBOK
Lombok (penduduk pada tahun 1990: 2.403.025) adalah sebuah pulau
di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh
Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah
timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih bulat bentuknya dengan
semacam "ekor" di sisi barat daya yang panjangnya kurang lebih 70
km. Pulau ini luasnya adalah 4.725 km (sedikit lebih kecil
daripada Bali). Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram,
sekaligus sebagai ibukota provinsi.
Lombok termasuk provinsi Nusa Tenggara Barat dan pulau ini sendiri
dibagi menjadi 3 kabupaten dan 1 kota:
Kotamadya Mataram dengan ibukota Mataram
Kabupaten Lombok Barat dengan ibukota Gerung
Kabupaten Lombok Tengah dengan ibukota Praya
Kabupaten Lombok Timur dengan ibukota Selong
Sejarah
Kerajaan Selaparang merupakan salah satu kerajaan tertua yang
pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok, bahkan disebut-sebut
sebagai embrio yang kemudian melahirkan raja-raja Lombok masa
lalu. Terbukti penamaan pulau ini juga sering disebut sebagai bumi
Selaparang atau dalam istilah lokalnya sebagai Gumi Selaparang.
Asal muasal Setidak-tidaknya ada tiga pendapat tentang asal muasal
kerajaan Selaparang (Buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat,
2002).
Pertama,
disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan proses kelanjutan dari
kerajaan tertua di pulau Lombok, yaitu "Kerajaan Desa Lae" yang
diperkirakan berkodudukan di Kecamatan Sambalia, Lombok Timur
sekarang. Dalam perkembangannya masyarakat kerjaan ini berpindah
dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan di
Kecamatan Aikmel dan diduga berada di Desa Sembalun Sekarang.
Dan ketika Gunung Rinjani meletus, penduduk kerajaan ini
terpencar-pencar yang menandai berakhirnya kerajaan. Betara Indra
kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Suwung, yang
terletak di sebelah utara Perigi sekarang.Setelah berakhirnya
kerajaan yang disebut terakhir, barulah kemudian muncul Kerajaan
Lombok atau Kerajaan Selaparang.
Kedua,
disebutkan bahwa setelah Kerajaan Lombok dihancurkan oleh tentara
Majapahit, Raden Maspahit melarikan diri ke dalam hutan dan
sekembalinya tentara itu Raden Maspahit membangun kerajaan yang
baru bernama Batu Parang yang kemudian dikenal dengan nama
Kerajaan Selaparang.
Ketiga,
disebutkan bahwa pada abad XII, terdapat satu kerajaan yang
dikenal dengan nama kerajaan Perigi yang dibangun oleh sekelompok
transmigran dari Jawa di bawah pimpinan Prabu Inopati dan sejak
waktu itu pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Perigi. Ketika
kerajaan Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke Pulau Bali pada
tahun 1443 yang diteruskan ke Pulau Lombok dan Dompu pada tahun
1357 dibawah pemerintahan Mpu Nala, ekspedisi ini menaklukkan
Selaparang (Perigi?) dan Dompu.
Bahasa
Dengan mengacu kepada ahli sejarah berkebangsaan Belanda, L. C.
Van den Berg yang menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi
sangat mempengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya
peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di
Nusantara.
Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual
masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi.
Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang
disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang
dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya
banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin manusia
Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak.
Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, lapel Adam, Menak
Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak
menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo,
seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan
Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang
disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah,
Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman
Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang
menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya
kerajaan dan masyarakatnya.
Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6
lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin,
yakni Danta, Danti, Kusuma, dan Warsa. Danta artinya gading gajah;
apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi. Danti artinya
ludah; apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat
lagi. Kusuma artinya kembang; tidak mungkin kembang itu mekar dua
kali. Warsa artinya hujan; apabila telah jatuh ke bumi tidak
mungkin naik kembali menjadi awan. Itulah sebabnya seorang raja
atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa
istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna
telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata
hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih
(bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu
(sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia), atau terpi (teratur).
Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan),
kencak (terampil), atau genem (rajin). Pariwisata Lombok dalam
banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an
mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya
krismon dan krisis-krisis lainnya, potensi pariwisata agak
terlantarkan.
Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar
agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran
kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali.
Jadi, anda sudah berkemas dan ingin mengunjungi Pulau Lombok?
Hubungi kami untuk mendapatkan panduan dan harga spesial. |