|
|
|
|
FESTIVAL BUDAYA LOMBOK
Selamat datang
di LTO Tours, Kami menawarkan informasi tentang
festival budaya Lombok atau senggigi festival tahunan,
dengan detail informasi lengkap di
bawah ini :
PAWAI OGOH OGOH
Parade
ogoh-ogoh ini digelar menjelang peringatan tahun baru Saka
1730 atau secara nasional dikenal dengan Hari Raya Nyepi.
Ratusan umat Hindu se Lombok berkumpul di Lapangan atletik
untuk memamerkan patung Bute Gale Durga Bukare. 12 patung
diarak dengan upacara keagamaan Hindu dengan penjagaan para
pecalang. ogoh-ogoh secara sastra
agama tidak ada tempatnya dalam ritual tawur kesanga.
Setelah tawur, istilahnya setelah diberi makan, maka yang
diperlukan oleh buta kala adalah hiburan untuk hidungnya
berupa bau (simbuh daun janggu), telinga diberi hiburan
berupa suara riuh dan matanya diberi hiburan berupa api (obor).
Tidak disebutkan hiburan berupa wujud manusia atau raksasa.
MALEAN SAMPI
kegiatan
upacara tradisional Malean Sampi sudah dikenal dan digemari
oleh masyarakat petani maupun peternak sapi sejak zaman
pemerintahan Hindia-Belanda sekitar abad ke-18 dan juga saat
pemerintahan Jepang. Kegiatan itu terus berlangsung
dibuktikan dengan adanya gambar Bendera Jepang pada
Serumpungan atau kerotok sapi yang dipertandingkan. Kegiatan
ini terus dipertahankan sampai sekarang, terutama di
Narmada.malean sampi dilaksanakan tiap tahun sebagai wujud "membayar
kaul" atas keberhasilan panen padi dan palawija. malean
sampi adalah simbol kehidupan religius mistis kehidupan
masyarakat agraris terhadap jagat raya ini. Sumber daya alam
beserta isinya merupakan karunia Ilahi yang harus dijaga dan
dimanfaatkan oleh manusia secara rasional bagi kehidupan.
Dalam Bahasa Sasak Lombok Malean Sampi terdiri dari
dua kata yakni, Malean yang berarti memalek atau mengejar
dan kata Sampi berarti Sapi. Dalam Malean Sampi ini, yang
dikedepankan adalah kemampuan seseorang mengendalikan
sepasang sapi yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan
seperti Gau, Ayuga, Samet, dan Serumpungan atau Kerotok.
Kegiatan itu diadakan pada sebidang tanah sawah datar dengan
panjang kurang lebih 100 meter dalam keadaan terendam air,
pasangan-pasangan sapi yang akan dipertandingkan dalam arena
Malean Sampi terlebih dahulu dihias kemudian diarak diiringi
kesenian daerah Lombok, seperti Gamelan Kamput, Batek Baris
Lingsar, Tawak-tawak dan sebagainya.
GENDANG BELEQ
Atraksi
musik Gendang Beleq. Musik tradisional masyarakat Lombok,
Nusa Tenggara Barat. Grup Gendang Beleq yang berasal dari
Kabupaten Lombok Barat ini, sedang memainkan gending manuk
belage, atau ayam berkelahi, dalam Festival Gendang Beleq di
Pantai Senggigi. Keindahan pertunjukan musik Gendang Beleq
tidak hanya pada bunyinya. Tetapi juga pada kostum, gerak
dan ekspresi para pemainnya.
Atraksi Gendang Beleq dimainkan oleh sekitar 30 sampai 40
orang, yang terdiri dari penabuh gendang, gong, kenceng,
reong, rencek, dan peniup seruling. Pemain rencek paling
banyak, sekitar 25 orang. Sedangkan penabuh gendang, dua
orang. Menurut Rusdi Harjo, pimpinan grup kesenian Gendang
Beleq asal Narmada, Lombok Barat, menurut hikayatnya,
penabuh Gendang Beleq itu adalah sepasang kera kembar.
Karena itu pakaian yang dikenakan maupun gendangnya berwarna
sama. Pada zaman dahulu, atraksi
Gendang Beleq diperuntukkan bagi para prajurit yang akan
berperang, atau untuk menyambut prajurit yang baru menang
perang. Karena itu, bunyi tetabuhannya sangat menggugah
semangat, dan memancing teriakan emosi orang yang
menontonnya. Gendang Beleq merupakan kesenian rakyat Lombok.
Keberadaannya tidak hanya sebatas di festival dan di kota
tetapi juga di desa-desa yang jauh dari kota.Keterampilan
warga Lombok memainkan Gendang Beleq umumnya diperoleh
secara alamiah, turun temurun. Seperti halnya Mansyur, dia
mempelajari menabuh Gendang Beleq secara alami, tanpa ada
yang mengajari.
PERESEAN
Menjelang
tujuh belasan biasanya banyak acara2 agustusan digelar buat
meriahkan B'Day kemerdekaan. Acara yang paling aku tunggu2
adalah Tarung Peresean, biasanya tarung ini pastilah helatan
pemerintah karena acara ini melibatkan petarung2 dari
berbagai desa. Peresean adalah pertarungan antara dua orang
yang bersenjatakan alat pemukul (sebilah tongkat) dari rotan
(penjalin) dengan tameng dari bahan kulit sapi/kerbau.
Peresean juga bagian dari upacara adat di pulau Lombok dan
termasuk dalam seni tarian suku sasak. Seni peresean ini
menunjukkan keberanian dan ketangkasan seorang petarung (pepadu),
kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa
emosional para raja dimasa lampau ketika mendapat kemenangan
dalam perang tanding melawan musuh-musuh kerajaan, disamping
itu para pepadu pada peresean ini mereka menguji keberanian,
ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding. Yang unik
dalam pertarungan ini adalah pesertanya tidak dipersiapkan
sebelumnya alias para petarung diambil dari penonton sendiri,
artinya penonton saling tantang antar penonton sendiri dan
salah satu pemain akan kalah jika kepala atau anggota badan
sudah berdarah darah.
Masing-masing pepadu/pemain yang akan bertanding membawa
sebuah perisai (ende) dengan alat pemukul yang terbuat dari
sebilah rotan, dalam pertanding ini dipimpin oleh seorang
wasit (pekembar). Wasit ini ada dua macam, yakni wasit
pinggir dan wasit tengah. Wasit pinggir (pekembar sedi) yang
mencari pasangan pemain dari penonton yang akan bertarung,
sedangkan wasit tengah (pekembar tengaq) yang akan memimpin
pertandingan. Pada umumnya para pepadu yang bertarung oleh
pekembar mempunyai awiq-awiq dengan menggunakan sistem ronde
atau tarungan, masing-masing pasangan bertarung selama lima
ronde, yang akhir ronde / tarungan tersebut ditandai dengan
suara pluit yang ditiup oleh pekembar tengaq (yang memimpin
pertandingan). Aturan yang dipakai adalah pemain tidak boleh
memukul badan bagian bawah (kaki/paha) tetapi hanya
diperbolehkan memukul tubuh bagian atas (kepala, pundak,
punggung). Jika salah satu pepadu bisa memukul kepala maka
skor yang didapet pasti tinggi, palagi kepala lawan sampe
bocor. Peresean ini disamping
tongkat pemukul dari rotan yang digunakan oleh masing-masing
pepadu, juga ada musik pengiring yang akan memberikan
semangat kedua petarung sekaligus sebagai pengiring kedua
petarung untuk menari. Lho kok menari..?? Iya menari,
itu merupakan jeda istirahat sejenak sebelum melanjutkan
pertarungan sekalian sebagai ajang adu gertakan (psywar)
bagi lawan. Jadi sehabis pertarungan sengit wasit biasanya
menghentikan sejenak pertarungan, nah disanalah kedua
petarung menari sambil mempelajari lagi kekuatan lawan.
Alat-alat musik yang digunakan sebagai pengiring terdiri
dari gong, sepasang kendang, rincik/simbal, kajar serta
suling. Peresean sering juga
ditampilkan menyambut tamu-tamu atau wisatawan mancanegara
yang datang berkunjung ke Lombok, dan mereka menilai
permainan dan atraksi itu cukup unik karena kedua petarung
saling pukul dengan rotan yang mengakibatkan kepala dan
badannya terluka parah, namun selesai pertandingan mereka
saling berpelukan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa,
atau dengan kata lain tidak ada dendam.
SENGGIGI FESTIVAL TAHUNAN
Maraknya
pesta budaya NTB tak hanya terasa di Mataram, tapi juga di
Pantai Senggigi. Event yang dikemas apik ini bernama
Festival Senggigi dan dipusatkan di Senggigi Square.
Pembukaan Festival Senggigi juga dimeriahkan dengan pawai
budaya beberapa hari sebelumnya. Festival Senggigi juga
menyuguhkan aneka hiburan berupa tarian yang dipentaskan
setiap malam. Para penari bukan hanya menampilkan berbagai
keahlian mereka di atas pentas, tapi juga mengajak penonton
atau wisatawan untuk ikut menari bersama di atas panggung.
Berburu aneka suvenir cantik khas Lombok selama
penyelenggaraan Festival Senggigi, adalah waktu yang tepat.
Anda bisa menyusuri otlet-otlet yang berjajar di sepanjang
arena dan memilih ukiran, kain tenun serta souvenir khas
lain yang memikat hati. Serunya aneka kerajinan tersebut
ditawarkan dengan harga yang spesial. Menarik bukan?
Penyelenggaraan BAB di Mataram, Lombok, tentunya harus
dipertahankan. Sebab, pagelaran ini tak hanya merupakan
ajang berkumpul dan berkreasi seluruh seniman dan budayawan
di NTB, namun juga merupakan sebuah wadah untuk
mengekspresikan diri dan melestarikan budaya. Event ini pun
mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal
maupun mancanegara. Selain menikmati saat-saat berlibur,
wisatawan lokal bisa menjadikan event ini sebagai momen yang
tepat untuk lebih mengenal dan memahami kebudayaan yang ada
di negeri sendiri. Seiring dengan program "Kenali Negerimu,
Cintai Negerimu" yang didengungkan oleh Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata.
-o0o-
|
|